pereatan genset

Mungkinkah Energi Terbarukan digunakan Secara Berkelanjutan?

Saat ini, energi listrik telah menjadi bagian dalam kehidupan setiap orang saat menjalani aktivitas sehari-hari. Hadirnya energi listrik memudahkan kehidupan manusia mulai dari proses produksi, distribusi hingga konsumsi. Namun, seiring berjalannya waktu, semakin dibutuhkannya energi listrik membuat pasokan energi listrik perlu ditingkatkan agar tidak terjadi kelangkaan energi listrik.

Untuk mengatasi peningkatan kebutuhan energi listrik, pemanfaatan energi terbarukan guna menghasilkan energi listrik dapat menjadi opsi terbaik. Saat ini, beberapa energi terbarukan seperti energi matahari, angin, air hingga biodiesel mulai dikembangkan untuk menggantikan energi yang tidak terbarukan seperti minyak bumi dan batu bara. Akan tetapi, akankah energi terbarukan mampu menggeser penggunaan energi tidak terbarukan secara berkelanjutan?
Potensi mewujudkan energi listrik yang berkelanjutan

Memanfaatkan energi terbarukan di Indonesia untuk dikonversikan menjadi energi listrik sebetulnya bukanlah hal yang sulit. Ada berbagai energi terbarukan potensial yang bisa dimanfaatkan seperti cahaya matahari, angin, air hingga biodiesel. Beberapa opsi tersebut bisa dikembangkan meski belum umum dilakukan dan tengah melalui proses penelitian. Jika berhasil dimanfaatkan, bukan tidak mungkin mimpi untuk mendapatkan energi listrik terbarukan secara berkelanjutan bisa terwujud.

Tantangan yang dihadapi

Jika Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan energi terbarukan secara berkelanjutan, lantas apa yang menjadi tantangan dan membuat energi terbarukan belum umum digunakan di Indonesia? Beberapa faktor berikut menjadi tantangan sulitnya mewujudkan energi terbarukan secara berkelanjutan di Indonesia.

1. Faktor biaya
Dalam memenuhi pasokan energi listrik, efisiensi biaya yang dikeluarkan perlu diperhatikan dengan sangat teliti. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Puspitek pada tahun 2013, hanya pembangkit listrik tenaga Air saja yang cukup murah untuk menghasilkan listrik per kWh (4.75 sen USD/kWh). Untuk memanfaatkan PLTA jelas bukan opsi yang terbaik mengingat ketersediaan energi akan sangat bergantung pada cuaca mengingat saat musim kemarau suplai air tidak sebanyak saat musim hujan. Sementara itu, beberapa opsi energi terbarukan lainnya tergolong cukup mahal seperti Pembangkit Listrik Tenaga Angin (8.9 sen USD/kWh), Pembangkit Listrik Panas Bumi (11.4 sen USD/kWh), dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (18.25 sen USD/kWh). Di sisi lain, PLTU Batu Bara hanya membutuhkan biaya sebesar 6.1 sen USD/kWh dan PLTG sebesar 7.1 sen USD/kWh.

2. Penyimpanan energi
Tantangan lainnya yang perlu dihadapi adalah penyimpanan energi. Energi terbarukan seperti Cahaya Matahari, Air dan Angin merupakan jenis sumber energi yang tidak stabil dalam menghasilkan energi listrik. Saat kondisi suplai energi sedang menurun, maka pasokan energi listrik akan menurun pula sehingga dibutuhkan cadangan energi atau penyimpanan energi guna memastikan pasokan listrik tetap dapat diandalkan. Biaya untuk invesatasi penyimpanan energi jelas tidak murah dan hal inilah yang membuat energi terbarukan dirasa masih sulit bersaing untuk digunakan secara berkelanjutan.

Dibalik beragam tantangan untuk mewujudkan pemanfaatan energi terbarukan secara berkelanjutan, Sewatama siap untuk mewujudkan hal tersebut. Sebagai perusahaan kelistrikan yang telah berpengalaman selama lebih dari 27 tahun, Sewatama menyediakan berbagai macam jasa seputar kelistrikan mulai dari sewa genset, pemasangan solar panel, hingga perawatan genset terbaik. Layanan kelistrikan dari Sewatama telah digunakan oleh banyak perusahaan mulai dari kawasan industri hingga pengeboran minyak offshore. Sehingga, jika Anda ingin memanfaatkan energi terbarukan secara berkelanjutan di lingkungan industri, Sewatama bisa menjadi pilihan yang tepat untuk mewujudkannya.

Corporate News

Berita