Rasio Elektrifikasi di Indonesia dan Potensi Energi Alternatif Untuk Meningkatkannya

Listrik menjadi kebutuhan primer bagi kehidupan manusia saat ini. Baik di lingkungan rumah tangga maupun kawasan industri, listrik tetap dibutuhkan untuk menjalankan peralatan elektronik maupun mesin untuk produksi. Hal inilah yang membuat rasio elektrifikasi di Indonesia sangat menjadi perhatian agar setiap daerah di Indonesia dapat merasakan energi listrik secara merata.

Secara nasional, angka rasio elektrifikasi di Indonesia sebetulnya sudah cukup baik yakni 98,86% pada bulan Agustus 2019 silam. Dalam 5 tahun terakhir, rasio elektrifikasi di Indonesia bahkan meningkat hingga mencapai 14,5% atau dengan rataan 3% setiap tahunnya. Meskipun terlihat baik, hanya saja masih ada sekitar 1.103.859 rumah tangga yang belum merasakan energi listrik. Nusa Tenggara timur menjadi provinsi dengan rasio elektrifikasi terendah yakni 73% diikuti oleh Papua sebesar 94% dan Kalimantan Tengah sebesar 95%. Ada berbagai faktor yang membuat jumlah rumah tangga yang belum merasakan energi listrik cukup tinggi seperti faktor ekonomi sampai faktor kondisi geografis yang sulit untuk dijangkau oleh infrastruktur kelistrikan yang memadai.

Guna mengatasi tantangan berupa kondisi geografis yang sulit dijangkau, terdapat opsi untuk menghasilkan energi listrik di daerah tersebut yakni dengan memanfaatkan energi alternatif. Produksi listrik yang bersifat komunal atau listrik off-grid bisa dimanfaatkan agar setiap daerah di Indonesia bisa mendapatkan aliran listrik. Beberapa potensi energi yang dapat dimanfaatkan antara lain Energi matahari, biomassa dan mikrohidro.

Besarnya potensi tenaga surya

Memanfaatkan energi matahari untuk menghasilkan listrik di daerah terpencil merupakan solusi terbaik yang bisa dilakukan agar rasio elektrifikasi di Indonesia bisa terpenuhi hingga mencapai 99,99%. Cara ini telah dilakukan oleh pemerintah dengan menggunakan Lampu Hemat Energi Tenaga Surya (LHETS) dalam beberapa tahun terakhir. Penggunaan LHETS mampu membuat beberapa daerah di Indonesia yang belum teraliri listrik bisa mendapatkan penerangan pada malam hari. Berdasarkan data dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, LHETS terdapat sebanyak 2.740 unit di Sumatera Utara, 2.178 unit di Sumatera Barat, 4.606 unit di Jambi, 3.038 unit di Bengkulu, 4.272 unit di Lampung, 1.367 unit di Jawa Timur, 1.907 unit di Nusa Tenggara Barat, 20.934 unit di Nusa Tenggara Timur, 4.492 unit di Kalimantan Barat, 5.413 unit di Kalimantan Tengah, 3.136 unit di Kalimantan Selatan, 3.618 unit di Kalimantan Timur, 4.553 unit di Kalimantan Utara, 4.278 unit di Sulawesi Tengah, 3.136 unit di Sulawesi Selatan, 4.618 unit di Sulawesi Tenggara, 3.930 unit di Sulawesi Barat, 1.533 unit di Gorontalo, 4.639 unit di Maluku, 6.100 unit di Maluku Utara, 13.320 unit di Papua, dan 3.842 unit di Papua Barat. Beberapa daerah tersebut mendapatkan pasokan LHETS sebelum mendapatkan aliran listrik secara merata dengan target selama 2 tahun mengikuti usia pakai dari Lampu Hemat Energi Tenaga Surya tersebut.

Pemanfaatan energi surya melalui penggunaan solar panel merupakan pilihan terbaik untuk menghasilkan listrik secara mandiri di daerah terpencil yang sulit dijangkau. Sewatama dapat membantu memenuhi kebutuhan listrik Anda secara mandiri di daerah terpencil melalui jasa pasang solar panel baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun kebutuhan Industri. Dengan pengalaman selama lebih dari 27 tahun didukung pula dengan teknisi yang telah tersertifikasi, Sewatama mampu menghadirkan energi listrik di area yang sulit dijangkau secara andal. Sewatama dapat memberikan solusi untuk membantu dalam meningkatkan rasio elektrifikasi di Indonesia.

Corporate News

News