Tips / Artikel - 26 January 2026

Apa Beda kVA vs kW?

Pernahkah Anda memesan segelas cappuccino dan merasa sedikit "tertipu" karena hampir separuh gelasnya berisi busa? Di dunia kopi, busa itu seni. Tapi di dunia kelistrikan, jika Anda tidak paham bedanya “busa”  dan “kopi”, bisa kehilangan jutaan rupiah atau bahkan membahayakan nyawa.

Apa hubungannya antara kopi dengan kelistrikan? Analogi cappuccino sebenarnya untuk memudahkan dalam menjelaskan perbedaan antara kVA dan kW ketika kita memilih kapasitas generator set (genset) sebelum membeli atau menyewa.

Bayangkan sebuah genset adalah segelas cappuccino yang Anda pesan di kafe. Bila diibaratkan genset adalah segelas cappuccino, maka dapat dianalogikan sebagai berikut:

Cairan Kopi bercampur susu adalah kW (Kilowatt):  inilah daya nyata yang dihasilkan genset. Ibaratnya adalah cairan kopi dan susu yang kita minum agar kita tetap terjaga. Daya nyata ini adalah tenaga sesungguhnya yang bekerja untuk menyalakan lampu, memutar kompresor AC, atau memanaskan setrika.

Lalu dalam segelas cappuccino juga ada foam/busa yang oleh barista biasanya dibentuk menjadi lukisan tertentu. Bila dianalogikan dengan genset, busa ini adalah kVAR (Kilovolt Ampere Reactive) atau daya sisa yang "memakan tempat" tapi tidak bisa Anda gunakan. Daya sisa ini muncul karena adanya sistem induksi (biasanya dari alat yang punya motor/dinamo). Ia harus ada, tapi tidak dapat menyalakan lampu Anda.

Berikutnya bila dianalogikan cappucino, perlu ditampung dalam gelas yang memiliki ukuran tertentu. Gelas ini ibarat kVA (Kilovolt Ampere) atau daya semu yang merupakan kapasitas total atau ukuran total dari daya yang dihasilkan. Seperti cappuccino yang dijual dalam ukuran per gelas 250 ml, padahal total campuran kopi dan susu tidak mutlak 250 ml karena ada busa yang memenuhi gelas itu. Sayangnya, banyak dari kita salah kaprah mengira ukuran gelas (kVA) sama dengan jumlah kopi (kW). Padahal, selalu ada "busa" di dalamnya.

Aturan 0,8: "pajak" Tersembunyi

Dalam spesifikasi genset standar, juga ada patokan Power Factor sebesar 0,8. Artinya, isi "kopi" Anda sebenarnya hanya 80% dari ukuran "gelasnya". Jadi, kalau Anda melihat genset berlabel 5 kVA, daya yang sebenarnya bisa Anda pakai hanya 4 kW (4.000 Watt). Bagi kebanyakan orang, kurang 1.000 Watt mungkin terdengar sepele, namun hal ini sejatinya bisa menjadi bencana besar, mengapa demikian?

Pertama, jika dipaksakan, mesin bisa "Jebol" (Overload): Memaksa beban 5.000 Watt pada genset 5 kVA ibarat memaksa motor matic menarik beban truk kontainer. Mesin akan bekerja terlalu keras, cepat panas, berasap, dan akhirnya rusak permanen.

Kedua, risiko kebakaran: Ketika kabel dipaksa mengalirkan arus melebihi kapasitas kW-nya, akan terjadi overheating. Panas ekstrem ini bisa melelehkan pelapis kabel dan memicu percikan api.

Ketiga, naik-turun tegangan: Genset yang kepayahan akan menghasilkan tegangan yang naik-turun (tidak stabil). Arus yang "goyang" ini adalah musuh utama microchip pada Smart TV, kulkas inverter, atau laptop Anda.

Oleh karena itu, sebelum menentukan membeli atau menyewa genset, kita perlu memastikan beberapa langkah berikut:

1. Audit Watt Anda: Catat semua Watt alat elektronik yang ingin dinyalakan. Ingat, alat seperti AC atau pompa air butuh daya 2-3 kali lipat lebih besar saat pertama kali dinyalakan (starting current).

2. Konversi ke kVA: Total Watt tadi, bagi dengan 0,8. (Contoh: Butuh 4.000 Watt / 0,8 = Butuh minimal genset dengan kapasitas 5 kVA).

3. Beri "Napas" (Margin 20%): Jangan beli yang mepet. Selalu pilih kapasitas 20-30% lebih tinggi dari kebutuhan agar mesin awet dan suara genset tidak terlalu raung.

Untuk kebutuhan daya yang sangat besar (di atas 500 kW), misalnya untuk industri atau gedung perkantoran, menghitung "gelas" dan "busa" ini menjadi jauh lebih krusial. Tim Sewatama biasanya hadir di sini untuk membantu Anda menghitung beban secara presisi agar tidak ada energi yang terbuang sia-sia.

Jadi, sebelum Anda memutuskan untuk membeli atau menyewa genset, ada baiknya mengingat kembali analogi cappuccino tadi. Pastikan Anda tidak hanya membayar untuk "gelasnya", tapi pastikan "kopinya" cukup untuk menghidupkan kebutuhan Anda.

Oleh: M. Fauzan, Product Application Engineering, PT Sumberdaya Sewatama

Berita & Update Lainnya

Tahukah Anda mengenai capacity factor dari suatu pembangkit li...
PT Sumberdaya Sewatama, menerima kembali sertifikat ISO 45001:2018 Occup...
Lima puluh karyawan Sewatama, mendapat anugerah Service Year Award 2024 ...

Beri tahu apa yang Anda butuhkan

Kami akan membantu memberikan solusi untuk anda