Sejak memulai perjalanan saya di bidang manajemen risiko pada tahun 2018, satu pelajaran yang terus terasa penting adalah bahwa kerangka kerja, metode, dan kebijakan saja tidak pernah cukup. Pembeda utama antara organisasi yang sekadar mematuhi prosedur risiko dan organisasi yang benar-benar mengelola risiko dengan baik adalah kualitas kepemimpinan serta kompetensi para pengambil keputusan.
Manajemen risiko yang efektif dimulai dari pimpinan puncak. Pemimpin yang terlibat aktif dalam diskusi risiko mengirimkan pesan yang sangat kuat: bahwa risiko bukan hanya isu teknis, melainkan isu strategis. Ketika para eksekutif mengajukan pertanyaan yang tepat, menantang asumsi, dan mendukung pelaporan yang transparan, mereka menciptakan lingkungan di mana risiko dapat diidentifikasi lebih awal dan ditangani secara kolaboratif, bukan disembunyikan hingga berkembang menjadi krisis.
Pemimpin yang kompeten juga memahami bahwa mengelola risiko bukan berarti menghindari seluruh ketidakpastian, melainkan membuat keputusan yang terinformasi dengan baik. Mereka mampu menyeimbangkan risiko dan peluang, dengan berlandaskan data, pengalaman, dan pertimbangan yang matang. Berdasarkan pengalaman saya, pemimpin yang meluangkan waktu untuk memahami risiko-risiko utama—baik finansial, operasional, keselamatan, kepatuhan, maupun reputasi—akan lebih siap dalam mengarahkan organisasi menghadapi volatilitas dan perubahan.
Aspek penting lainnya dari kepemimpinan dalam manajemen risiko adalah konsistensi. Karyawan dengan cepat menyadari ketika kebijakan risiko hanya diperlakukan sebagai formalitas semata, bukan sebagai komitmen yang nyata. Ketika pemimpin secara konsisten menindaklanjuti pengendalian, tindakan perbaikan, dan akuntabilitas, manajemen risiko menjadi bagian dari perilaku sehari-hari, bukan sekadar item dalam daftar periksa audit.
Tak kalah penting adalah kompetensi dalam mengembangkan sumber daya manusia. Pemimpin yang kuat tidak memusatkan pengetahuan risiko hanya pada segelintir orang, melainkan membangun kesadaran risiko di seluruh tingkat organisasi. Mereka mendukung pelatihan, mendorong kolaborasi lintas fungsi, serta memberdayakan tim untuk berani bersuara ketika ada sesuatu yang terasa tidak tepat. Dalam banyak kasus, rasa aman secara psikologis sama pentingnya dengan keahlian teknis dalam mencegah kegagalan besar.
Dari sudut pandang seorang spesialis risiko, organisasi yang paling matang bukanlah mereka yang memiliki manual paling tebal, melainkan mereka yang dipimpin oleh pemimpin yang mau mendengarkan, belajar, dan memberi teladan. Mereka menyadari bahwa ketidakpastian tidak dapat dihindari, tetapi kurangnya kesiapan dapat dicegah. Dengan memperkuat kapabilitas kepemimpinan dan kompetensi pengambilan keputusan, organisasi tidak hanya mengurangi potensi kerugian, tetapi juga membangun ketahanan dan keberlanjutan jangka panjang.
Di tengah lingkungan bisnis yang berubah dengan cepat saat ini, manajemen risiko tidak lagi dapat didelegasikan sepenuhnya kepada spesialis risiko. Manajemen risiko harus tertanam dalam pola pikir kepemimpinan dan praktik manajemen sehari-hari. Ketika para pemimpin mengambil kepemilikan atas risiko, seluruh organisasi akan beralih dari pemecahan masalah yang reaktif menuju perlindungan dan penciptaan nilai yang proaktif. Dan di sanalah, pada akhirnya, tingkat kematangan risiko yang sesungguhnya dimulai.
Oleh: Maya Rosa Nelsari Matondang, S.T., QRMP, Risk Management Specialist, PT. Sumberdaya Sewatama
Kami akan membantu memberikan solusi untuk anda