Di tengah meningkatnya kebutuhan energi bersih dan tuntutan pengurangan emisi karbon, industri kelapa sawit Indonesia memiliki peluang yang semakin strategis untuk berkontribusi terhadap transisi energi. Salah satu peluang tersebut berasal dari Palm Oil Mill Effluent (POME), limbah cair yang dihasilkan dalam proses produksi minyak sawit mentah (Crude Palm Oil atau CPO).
Selama bertahun-tahun, pembahasan mengenai biogas POME lebih banyak berfokus pada potensi energi yang dapat dihasilkan. Namun, seiring semakin matangnya teknologi dan bertambahnya pengalaman implementasi di lapangan, diskusi yang lebih relevan saat ini adalah bagaimana memastikan proyek biogas mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan, baik dari sisi operasional, ekonomi, maupun lingkungan.
Bagi industri sawit, pemanfaatan POME bukan lagi sekadar upaya pengelolaan limbah. Biogas kini mulai dipandang sebagai bagian dari strategi energi yang dapat membantu perusahaan meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat komitmen keberlanjutan.
Potensi Biogas POME di Indonesia Masih Sangat Besar
Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk mengembangkan biogas berbasis POME. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian tahun 2025, luas perkebunan sawit nasional mencapai sekitar 16,83 juta hektare. Sementara itu, data GAPKI tahun 2026 menunjukkan produksi CPO Indonesia pada tahun 2025 mencapai sekitar 51,7 juta ton. Dengan lebih dari seribu pabrik kelapa sawit yang beroperasi, Indonesia diperkirakan menghasilkan sekitar 155 juta meter kubik POME setiap tahun.
Volume tersebut menjadikan POME sebagai salah satu sumber energi terbarukan yang paling prospektif di Indonesia. Kandungan bahan organiknya yang tinggi memungkinkan limbah ini diolah melalui proses anaerobik untuk menghasilkan biogas yang didominasi oleh metana dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.
Saat ini, biogas dari POME telah digunakan untuk berbagai kebutuhan industri, mulai dari bahan bakar gas engine pembangkit listrik, Bio-CNG untuk kebutuhan energi industri, hingga co-firing pada sistem boiler. Perkembangan ini menunjukkan bahwa POME telah berkembang dari sekadar limbah proses menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi nyata.
Sebagai bagian dari perkembangan tersebut, PT Sumberdaya Sewatama melalui anak usahanya, PT Nagata Bisma Shakti, turut mengembangkan proyek biogas melalui model EPC (Engineering, Procurement and Construction) dan BOT (Build Operate Transfer), termasuk pembangunan dan pengoperasian pembangkit listrik tenaga biogas yang bekerja sama dengan sejumlah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
(CLICK VIDEO BELOW)
Mengapa Banyak Proyek Biogas POME Belum Berkembang Optimal?
Melihat besarnya potensi yang tersedia, muncul pertanyaan yang cukup sering disampaikan pelaku industri: mengapa pemanfaatan biogas POME belum berkembang secepat yang diharapkan?
Berdasarkan pengalaman implementasi di lapangan, kendala utama saat ini bukan lagi terletak pada ketersediaan teknologi. Tantangan yang lebih dominan justru berkaitan dengan investasi, pembiayaan proyek, kesiapan sumber daya manusia, serta kemampuan menjaga performa fasilitas dalam jangka panjang.
Pembangunan fasilitas penangkapan metana dan pembangkit biogas membutuhkan investasi awal yang relatif besar. Di sisi lain, perusahaan juga harus mempertimbangkan berbagai prioritas investasi lain yang mendukung bisnis intinya. Kondisi inilah yang sering membuat pengambilan keputusan proyek memerlukan pertimbangan yang lebih panjang dibandingkan proyek operasional lainnya.
Selain aspek investasi, masih terdapat tantangan terkait pengelolaan operasi, pemeliharaan fasilitas, serta kemampuan menjaga kualitas produksi biogas secara konsisten. Faktor-faktor tersebut sering kali menentukan keberhasilan proyek jauh setelah fase konstruksi selesai.
Keberhasilan Proyek Ditentukan oleh Operasi, Bukan Hanya Teknologi
Salah satu pemahaman yang semakin berkembang dalam industri biogas adalah bahwa teknologi bukan lagi faktor pembeda utama. Berbagai teknologi seperti Covered Lagoon, CSTR, Anaerobic Filter, maupun UASB telah terbukti dapat digunakan untuk menghasilkan biogas dari POME. Justru tantangan yang lebih besar muncul ketika fasilitas mulai beroperasi.
Produksi biogas sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas POME yang masuk ke dalam sistem. Perubahan kapasitas produksi pabrik, karakteristik limbah, maupun disiplin operasional dapat berdampak langsung terhadap stabilitas produksi gas dan kinerja pembangkit.
Karena itu, keberhasilan proyek biogas tidak hanya ditentukan oleh kemampuan merancang dan membangun fasilitas. Yang lebih penting adalah kemampuan mengoperasikan, memelihara, dan mengoptimalkan fasilitas secara berkelanjutan sehingga manfaat energi yang diharapkan dapat tercapai secara konsisten.
Dalam konteks ini, pengalaman operasional menjadi sama pentingnya dengan kompetensi rekayasa. Semakin kompleks kebutuhan energi dan target keberlanjutan perusahaan, semakin besar pula kebutuhan terhadap pengelolaan aset energi yang profesional dan terintegrasi.
Masa Depan Biogas POME sebagai Aset Energi Strategis
Ke depan, nilai strategis biogas POME diperkirakan akan terus meningkat. Selain menghasilkan energi terbarukan, pemanfaatan POME membantu mengurangi emisi metana yang memiliki dampak pemanasan global lebih tinggi dibandingkan karbon dioksida. Berbagai studi juga menunjukkan bahwa pengembangan biogas dari POME dapat mendukung target pengurangan emisi sekaligus memperkuat praktik ekonomi sirkular di industri sawit.
Pada saat yang sama, tuntutan terhadap praktik bisnis berkelanjutan terus meningkat. Pelanggan, investor, dan rantai pasok global kini semakin memperhatikan aspek ESG (Environmental, Social, and Governance) dalam pengambilan keputusan bisnis. Hal ini menjadikan proyek biogas tidak lagi semata-mata dipandang sebagai fasilitas pengolahan limbah, melainkan sebagai bagian dari strategi daya saing perusahaan.
Industri sawit Indonesia memiliki sumber daya, teknologi, dan kebutuhan yang semakin selaras untuk mendorong pemanfaatan biogas POME. Tantangan berikutnya bukan lagi menemukan potensinya, melainkan mempercepat realisasinya secara berkelanjutan. Bagi pelaku industri, pertanyaan yang paling relevan saat ini bukan apakah biogas POME layak dikembangkan, tetapi bagaimana memastikan pengembangannya mampu memberikan manfaat yang optimal bagi bisnis dan lingkungan secara bersamaan.
Dengan perspektif tersebut, POME tidak lagi dipandang sebagai limbah yang harus dikelola, melainkan sebagai aset energi strategis yang mampu mendukung ketahanan energi, target keberlanjutan, dan daya saing industri sawit Indonesia di masa depan.
By Murni Marbun, Project Manager, Biogas EPC, PT. Sumberdaya Sewatama
Berpengalaman dalam pembangunan dan pengoperasian biogas plant sejak 2008
Kami akan membantu memberikan solusi untuk anda