Berita Perusahaan - 09 January 2026

Bagaimana Kebutuhan Generator Set di Masa Mendatang?

Di tengah akselerasi Indonesia menuju target Net Zero Emission, sebuah realitas pragmatis muncul: ketergantungan pada generator set (genset) bertransformasi. Genset kini diposisikan bukan sekadar cadangan darurat, melainkan pilar stabilitas operasional dan instrumen kedaulatan energi berbasis nabati dalam implementasi RUPTL 2025–2034.

Geographical Mismatch

Pemerintah telah menetapkan RUPTL 2025-2034 sebagai kompas tunggal bagi industri kelistrikan di Tanah Air. Dalam RUPTL ditargetkan, hingga 2034 nanti akan ada penambahan 69,5 GW, di mana 76 persen di antaranya bersumber dari Energi Baru Terbarukan (EBT).

Namun, untuk mewujudkan hal tersebut, ada sejumlah tantangan yang harus dilalui. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari  kepulauan menjadi salah satu tantangan besar. Menurut Direktur Teknologi, Kelistrikan, dan Keberlanjutan PT PLN (Persero), Evy Haryadi, dalam paparannya di acara Electricity Connect 2025 akhir tahun lalu, menggarisbawahi bahwa tantangan terbesarnya adalah geographical mismatch, yaitu potensi energi hijau yang melimpah, tetapi lokasinya sering kali terisolasi, jauh dari pusat-pusat beban di kota besar dan kawasan industri.

Oleh sebab itu, strategi utama yang diusung dalam RUPTL 2025-2034 adalah pembangunan Green Enabling Super Grid. Idenya adalah menyambungkan pulau-pulau besar agar energi hijau yang dihasilkan dari daerah terisolasi dapat menyokong kebutuhan di kota besar. Sebaliknya, bila terjadi surplus listrik di satu daerah, dapat disalurkan ke daerah yang defisit listrik.

Sayangnya, rencana ini membutuhkan waktu lama dengan investasi yang besar. Berdasarkan data teknis, pembangunan interkoneksi skala besar ini membutuhkan waktu antara 8 hingga 11 tahun. Laporan dari Institute for Essential Services Reform (IESR) dalam Indonesia Energy Transition Outlook 2025 mencatat bahwa perluasan jaringan ke daerah terpencil (3T) masih menghadapi kendala logistik dan biaya yang masif.

Smart Microgrid.

Salahsatu solusi atas kendala tersebut, kini pemerintah melalui PT PLN (Persero) tengah  melakukan ujicoba dengan membangun Smart Microgrid di Nusa Penida, Bali. Konsepnya adalah menggabungkan pembangkit listrik non-energi terbarukan seperti PLTD dengan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan. Alhasil, 26 unit mesin diesel (PLTD) di Nusa Penida bekerja bahu-membahu dengan panel surya (PLTS 3,6 MWp) dan sistem penyimpanan energi baterai (BESS 1 MW). Di sini, peran genset bergeser menjadi load follower. Karena karakter energi surya yang belum stabil, genset harus siap sedia masuk ke sistem dalam hitungan detik untuk menjaga stabilitas tegangan. Tanpa fleksibilitas dari unit diesel ini, sistem microgrid akan sangat rentan terhadap gangguan frekuensi yang berisiko merusak perangkat elektronik sensitif milik industri maupun rumah tangga.

Stabilitas Listrik

Bagi industri, kebutuhan listrik yang stabil merupakan keharusan. Apalagi, bila merujuk pada laporan McKinsey & Company dalam Global Energy Perspective 2025, kebutuhan akan pasokan listrik tanpa jeda (zero downtime) kian mendesak seiring ledakan ekonomi digital. Laporan itu menyoroti bahwa permintaan listrik dari sektor pusat data (data center) akan terus melonjak tajam. Indonesia, yang kini menjadi salah satu pusat pertumbuhan data center di Asia Tenggara, tidak punya ruang untuk toleransi gangguan daya.

Contoh lain, bagi operator industri dan rumah sakit, ketersediaan daya di lokasi (on-site power) melalui unit genset adalah standar wajib yang tak bisa ditawar. Meskipun grid nasional terus diperkuat, risiko gangguan teknis atau faktor eksternal akan selalu ada. Analisis BloombergNEF dalam Indonesia Transition Factbook 2025 mempertegas bahwa sebelum teknologi baterai mencapai skala ekonomi yang merata, genset tetap menjadi solusi cadangan paling andal untuk memitigasi kerugian finansial akibat terhentinya operasional.

Bahan Bakar “Hijau“

Satu hal yang kerap luput dari perhatian adalah bagaimana bahan bakar penggerak genset ini ikut berevolusi. Setelah implementasi B40 berjalan di awal 2025, pemerintah kini mengarahkan fokus pada kewajiban menggunakan biodiesel dengan formula B50.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, dalam arah kebijakan energi nasional tahun 2025-2026 yang disampaikan dalam berbagai forum, menegaskan bahwa penguatan biodiesel adalah kunci menekan ketergantungan pada impor solar.

Data PLN mencatat bahwa hingga September 2025, konsumsi biofuel untuk pembangkitan telah mencapai 3,3 Giga Liter. Hal ini mengindikasikan, genset yang beroperasi saat ini adalah mesin-mesin yang mengonsumsi produk biodiesel, yang tidak hanya menurunkan emisi karbon, tetapi juga memperkuat ketahanan devisa negara.

Jembatan Menuju Masa Depan

Jika kita melihat RUPTL 2025-2034, transisi energi di Indonesia bukanlah sebuah proses "pemutusan hubungan" yang tergesa-gesa dengan teknologi lama. Sebaliknya, ini adalah sebuah simfoni integrasi. Unit-unit daya mandiri seperti genset telah membuktikan diri bukan sebagai penghambat, melainkan jembatan yang kokoh.

Keberadaannya memastikan bahwa sementara Super Grid sedang dibangun dan energi terbarukan sedang dimatangkan, denyut nadi ekonomi nasional tidak boleh berhenti. Selama interkoneksi belum menyentuh seluruh pelosok Nusantara, genset dengan dukungan biofuel B50 akan tetap menjadi penjaga setia keandalan energi Indonesia.

Transisi energi adalah maraton, bukan lari cepat; dan di setiap kilometernya, kita tetap membutuhkan mesin yang paling andal untuk memastikan kita sampai ke garis finis tanpa hambatan daya.

Oleh: Rizka S. Aji, Marketing Communication Specialist, PT. Sumberdaya Sewatama.

Berita & Update Lainnya

Jelang tutup tahun 2025, Tim Manajemen Sewatama berbagi pengetahuan. Kali ini Mu...
Apa kunci utama menjaga keandalan kerja generator set? Setidaknya terdapat tiga ...
Memenuhi komitmen Sewatama dalam memberikan layanan terbaik bagi pelanggan, PT S...

Beri tahu apa yang Anda butuhkan

Kami akan membantu memberikan solusi untuk anda