Tips / Artikel - 21 August 2026

Biogas Bukan Proyek Sampingan

Pemanfaatan biogas sebagai sumber energi untuk mendukung target Net Zero Emmision, tak lagi sebagai solusi pengelolaan limbah. Saat ini pemerintah Republik Indonesia menempatkan biogas, sebagai salah satu bagian dari strategi ketahanan energi nasional.

Di Indonesia, potensi terbesar  penghasil biogas berasal dari Palm Oil Mill Effluent (POME) atau limbah cair pabrik kelapa sawit yang dapat dikonversi menjadi energi listrik.

Dalam pertemuan dengan Satya Widya Yudha, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) pada 27 Juli 2026 lalu, serta pemaparan Direktorat Bioenergi Kementerian ESDM mengenai Arah Kebijakan Pengembangan Biogas, terlihat jelas bahwa pemanfaatan bioenergi, termasuk biogas, tidak lagi ditempatkan sebagai proyek sampingan, tetapi menjadi bagian dari peta jalan energi nasional menuju 2060. Berdasarkan target dalam PP Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), pemerintah menetapkan bioenergi sebagai salah satu pilar penting dalam bauran energi masa depan Indonesia.

Biogas: “Berkah” dari Limbah

Biogas merupakan gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan organik oleh mikroorganisme dalam kondisi anaerobik. Kandungan utama biogas adalah metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2). Gas metana inilah yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan listrik, panas, atau dimurnikan menjadi biomethane dan Bio-CNG.

Dr. M. Windrawan Inantha dalam event AgriWaste to Value Conference di Hotek JW Marriott, Jakarta, 22-23 July 2026, seperti dikutip Palmoil Magazine menyebutkan POME dari limbah kelapa sawit merupakan salah satu penghasil gas metan yang tinggi.

Sementara, dalam salah satu kajian mengenai pemanfaatan limbah cair kelapa sawit ini, memperlihatkan bahwa aliran residu industri kelapa sawit Indonesia tahun 2024, volume Palm Oil Mill Effluent (POME) yang dihasilkan setiap tahun diperkirakan mencapai 120 juta hingga 181 juta meter kubik, dengan estimasi rata-rata sekitar 144,5 juta meter kubik per tahun. Estimasi tersebut didasarkan pada produksi crude palm oil (CPO) Indonesia sebesar 48,16 juta ton, serta faktor pembentukan POME sebesar 2,5 hingga 3,75-meter kubik untuk setiap ton CPO yang diproduksi.

Tak heran bila pemanfaatan limbah ini bisa menjadi salah satu penopang ketahanan energi nasional sekaligus mendorong untuk pencapaian Net Zero Emission.

Bagi industri kelapa sawit, POME selama ini dikenal sebagai tantangan lingkungan yang harus dikelola. Menurut berbagai kajian BRIN dan pelaku industri, setiap ton tandan buah segar (TBS) dapat menghasilkan sekitar 0,5-ton POME. Dengan produksi sawit nasional yang mencapai sekitar 250 juta ton TBS per tahun, Indonesia berpotensi menghasilkan sekitar 125 juta ton POME setiap tahun.

Potensi tersebut jika tak dikelola dengan baik, justru dapat menghasilkan emisi yang merugikan. POME memiliki kandungan organik yang tinggi. Apabila dibiarkan terurai di kolam terbuka, limbah ini akan menghasilkan emisi metana yang memiliki potensi pemanasan global jauh lebih besar dibanding karbon dioksida.

Alhasil, bila gas metana tersebut bisa  “ditangkap” melalui sistem biodigester atau covered lagoon, hal ini dapat menguntungkan bagi perusahaan kelapa sawit maupun masyarakat sekitar.

4 Manfaat Nyata

Seperti dilakukan PT Sumberdaya Sewatama yang mengembangkan pemanfaatan POME pada salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Selatan.

Melalui anak perusahaanya, PT Nagata Bisma Shakti, Sewatama membangun  kemudian mengoperasikan dan merawat pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg) dengan kapasitas 2,4 MW sejak tahun 2016.

Dalam kurun waktu 10 tahun, kini Sewatama tengah membangun kembali PLTBg kedua  dengan kapasitas 1,2 MW di kawasan tak jauh dari lokasi pertama. Hal ini menunjukkan, bahwa pemanfaatan POME sebagai pembangkit listrik memberikan manfaat yang lebih luas bagi perusahaan kelapa sawit, yaitu :

1. Efisiensi Biaya Operasional.

Pabrik kelapa sawit yang berada di lokasi terpencil sering kali bergantung pada genset diesel untuk memenuhi kebutuhan listrik. Biogas dapat menjadi sumber energi lokal dan berkelanjutan.

2. Kepatuhan Lingkungan.

“Menangkap“ gas metana membantu perusahaan memenuhi standar lingkungan dan mengurangi risiko pencemaran dari limbah cair. Selain itu, semakin banyak pasar global yang mensyaratkan produk dengan jejak karbon rendah.

3. Dukungan Terhadap Sertifikasi Keberlanjutan.

Skema seperti sertifikasi ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) dan RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil), dan berbagai standar keberlanjutan internasional semakin memperhatikan pengelolaan emisi dan limbah. Pemanfaatan POME menjadi energi dapat mendukung pencapaian target keberlanjutan perusahaan.

4. Potensi Ekonomi Karbon.

Seiring berkembangnya mekanisme perdagangan karbon di Indonesia, proyek methane capture dari POME berpotensi menciptakan nilai ekonomi tambahan melalui pengurangan emisi yang terukur.

Bagi industri kelapa sawit, hal ini membuka peluang untuk mengubah biaya pengelolaan limbah menjadi investasi energi jangka panjang. Sementara bagi Indonesia, pemanfaatan biogas menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi, mengurangi emisi, dan meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik.

Oleh: Rizka S. Aji, Marketing Communication PT. Sumberdaya Sewatama.

Berita & Update Lainnya

Industri pertambangan batubara merupakan salah satu sektor strategis di Indonesi...
Di dunia industri, keselamatan kerja bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Si...
Musim hujan selalu menjadi tantangan utama bagi industri pertambangan di Indones...

Beri tahu apa yang Anda butuhkan

Kami akan membantu memberikan solusi untuk anda